Minggu, 13 Desember 2015

MACAM-MACAM TAFSIR



MACAM-MACAM TAFSIR

1.      Berdasarkan Sumbernya
Berdasarkan sumber penafsirannya, tafsir terbagi dalam dua bagian:Tafsir bi Al-Ma’tsur  dan Tafisr bi Al-Ra’yi
a.       Tafsir bi Al-Ma’tsur  adalah tafsir yang menggunakan Al-Qur’an atau sunnah sebagai sumber penafsirannya. Contoh:
1)      Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, karangan Abu Al-Fida’ Ismail bin Katsir Al-Qarsyi Al-Dimasyqi, terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir.
2)      Tafsir Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, karangan Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Thabary, dikenal dengan sebutan Ibnu Jarir At-Thabary.
3)      Tafsir Ma’alim Al-Tanzil, dikenal dengan sebutan Al-Tafsir Al-Manqul, karangan Al-Imam Al-Hafiz Al-Syahir Muhyi Al-Sunnah Abu Muhammad bin Husein bin Mas’ud bin Muhammad bin Al-Farra’ Al-Baghawy Al-Syafi’i, dikenal dengan sebutan Imam Al-Baghawy.
4)      Tafsir Tanwir Al-Miqyas Min Tafsir Ibn Abbas Karangan Majd Al-Din Abu Al-Thahir Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar Al-Syairazi Al-Fairuzabadi, dikenal dengan sebutan Al-Fairuzabadi.

b.      Tafsir bi Al-Ra’yi adalah tafsri yang menggunakan rasio/akal sebagai sumber penafsirannya. Contoh:
1)      Mafatih Al-Ghaib, Karangan Fakhr Al-Din Al-Razi.
2)      Al-Bahr Al-Muhith, karangan Abu Hayan Al-Andalusi Al-Gharnathi.
3)      Al-Kasysyaf ‘an Haqa’iq Al-Tanzil wa ‘Uyun Al-Aqawil fi Wujuh Al-Ta’wil, karangan Al-Zamakhsyari.

2.      Berdasarkan corak penafsirannya
Berdasarkan corak penafsirannya dibagi menjadi 5, diantaranya adalah:
a.       Tafsir shufi/isyari, corak penafsiran Ilmu Tashawwuf yang dari segi sumbernya termasuk tafsir Isyariy. Nama-nama kitab tafsir yang termasuk corak shufi ini, antara lain:
1)      Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Sahl bin Abdillah Al-Tustari. Dikenal dengan Tafsir Al-Tustasry.
2)      Haqaiq Al-Tafsir, karya Abu Abdirrahman Al-Silmi, terkenal dengan sebutan Tafsir Al-Silmi.
3)      Al-Kasyf wa Al-Bayan, karya Ahmad bin Al-Naisabury, terkenal dengan nama Tafsir Al-Naisabury.
4)      Tafsir Ibnu Araby, karya Muhyiddin Ibnu Araby, terkenal dengan nama Tafsir Ibnu Araby.
5)      Ruh Al-Ma’ani, karya Syihabuddin Muhammad Al-Alusy, terkenal dengan nama Tafsir Al-Alusiy (Al-Shabuniy, 1985: 2001).
b.      Tafsir Fiqhi, corak penafsiran yang lebih banyak menyoroti masalah-masalah fiqih. Dari segi sumber penafsirannya, tafsir bercorak fiqhi ini termasuk tafsir bi Al-Ma’tsur. Kitab-kitab tafsir yang termasuk corak ini antara lain:
1)      Ahkam Al-Quran, karya Al-Jashshash, yaitu Abu Bakar Ahmad bi  Ali Al-Razi, dikenal dengan nama Tafsir Al-Jashshash. Tafsir ini merupakan tafsir yang penting dalam fiqih mazhab Hanafi.
2)      Ahkam Al-Quran, karya Ibnu Arabi, yaitu Abu bakar Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Mu’afiri Al-Andalusi Al-Isybili. Kitab tafsir ini menjadi rujukan penting dalam Ilmu Fiqihbagi pengikut mazhab Maliki.
3)      Al-jami’ li Ahkam Al-Quran, karya Imam Al-Qurthuby, yaituAbu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin FarhAl-Anshariy Al-Khazraji Al-Andalusi. Kitab ini dengan nama kitab Tafsir Al-Qurthuby, yang pendapat-pendapatnya tentang fiqih cenderung pada pemikiran mazhab Maliki.
4)      Al-Tafsirat Al-Ahmadiyyah fi Bayan Al-Ayat Al-Syari’ah, karya Mula Geon.
5)      Tafsir Ayat Al-Ahkam, karya Muhammad Al-Sayis.
6)      Tafsir Ayat Al-Ahkam, karya Manna’ Al-Qaththan.
7)      Tafsir Adhwa’ Al-Bayan, karya Syeikh Muhammad Al-Syinqiti(Al-Qaththan, tt: 376-377).
c.       Tafsir Falsafi, yaitu tafsir yang dalam penjelasannya menggunakan pendekatan filsafat, termasuk dalam hal ini adalah tafsir yang bercorak kajian Ilmu Kalam. Dari segi sumber penafsirannya tafsir bercorak falsafi ini termasuk tafsir bi Al-Ra’yi. Kitab-kitab tafsir yang termasuk dalam kategori ini antara lain:
1)      Tanjih Al-Quran An Al-Matha’in, karya Al-Qadhi Abdul Jabbar. Tafsir ini bercorak kalam aliran Mu’tazilah. Dilihat dari segi metode yang digunakannya, tafsir ini termasuk tafsir Ijmaliy, sedangkan dari segi sumber penafsirannya ia lebih banyak menggunakan akal, karena itu termasuk Tafsir bi Al-Ra’yi.
2)      Mir’at Al-Anwar Wa Misykat Al-Asrar, dikenal dengan Tafsir Al-Misykat, karya Abdul Lathif Al-Kazarani. Tafsir ini bercorak kalam aliran Syi’ah.
3)      Al-Tibyan Al-Jami’ Li Kulli Ulum Al-Qur’an, karya Abu Ja’far Muhammad bin Al-Hasan bin Ali Al-Thusi. Tafsir ini bercorak kalam aliran Syi’ah Itsna Asy’ariyah.
d.      Tafsir Ilmiy,yaitu tafsir yang lebih menekankan pembahasannya dengan pendekatan ilmu-ilmu pengetahuan umum. Dari segi sumber penafsirannya tafsir bercorak Ilmy ini juga termasuk tafsir bi Al-Ra’yi. Salah satu contoh kitab tafsir yang bercorak ilmiy adalah kitab Tafsir Al-Jawahir, karya Thanthawi Jauhari.
e.       Tafsir Al-Adab Al-Ijtima’i yaitu tafsir yang menekankan pembahasannya pada masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Dari segi sumber penafsirannya tafsir yang bercorak Al-Adab Al-Ijtima’i ini termasuk tafsir bi Al-Ra’yi. Namun ada juga sebagian ulama yang mengategorikannya sebagai tafsir Bi Al-Izdiwaj (tafsir campuran), karena presentase atsar dan akal sebagai sumber penafsiran dilihatnya seimbang. Salah satu contoh tafsir yang bercorak demikian ini adalah Tafsir Al-Manar, buah pikiran Syeikh Muhammad Abduh yang dibukukan oleh Muhammad Rasyid Ridha.

3.      Berdasarkan Metodenya
Para ulama Al-Qur’an telah membuat klasifikasi tafsir berdasarkan metode penafsirannya menjadi empat macam, yaitu (1) Tahlili, (2) Ijmali, (3) Muqaran, dan (4) Maudhu’i. Keempat metode ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.       Metode Tahlili (Metode Analisis)
Metode Tahlili dalah metode penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an secara analitis dengan memaparkan segala aspek yang terkandung dalam ayat yang ditafsirkannya sesuai dengan bidang keahlian mufasir tersebut.
b.      Metode Ijmali (Metode Global)
Metode Ijmali yaitu penafsiran Al-Qur’an secara singkat dan global, tanpa uraian panjang lebar , tetapi mencakup makna yang dikehendaki dalam ayat.
c.       Metode Muqaran (Metode Komparasi/Perbandingan)
Tafsir dengan metode muqaran adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan cara mengambil sejumlah ayat Al-Qur’an, kemudian mengemukakan pendapat para ulama tafsir dan membandingkan kecenderungan para ulama tersebut, kemudian mengambil kesimpulan dari hasil perbandingannya (Al-Aridh, 1992: 75).
d.      Metode Maudhu’i (Metode Tematik)
Tafsir dengan metode Maudhu’i adalah menjelaskan konsep Al-Qur’an tentang suatu masalah/tema tertentu dengan cara menghimpun seluruh ayat Al-Qur’an yang membicarakan tema tersebut.   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar