Sabtu, 05 Desember 2015

PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA




PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA

  • KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA
       Mengenai datangnya islam di Nusantara terdapat dua pendapat. Sejarawan Indonesia dan Malaysia berpendapat bahwa islam datang ke Asia Tenggara pada abad VIII M atau abad I H. Sedangkan pendapat kedua menyatakan islam datang ke Indonesia abad XIII M, yang di pelopori oleh sejarawan belanda.
       Islam datang, berkembang dan melembaga di Nusantara melalui proses yang panjang. Pergumulan di dalam proses islamisasi di Nusantara, sekurang-kurangnya menghasilkan empat teori besar tentang : dimana, kapan, dan dari mana islam datang dan berkembang di Nusantara.
Adapun teori-teori tersebut adalah:
1.      Teori pertama, menyatakan bahwa islam datang dari anak benua India. Teori ini mula-mula diperkenalkan oleh G.W.J. Drewes, kemudian di kembangkan oleh Snouck Hurgronje. Alasan Drewes ialah orang-orang Arab bermadzab Syafi’i yang menetap di Gujarat dan Malabar itulah yang mengembangkan islam di Nusantara. Sedangkan Hurgronje berpendapat bahwa ketika komunitas islam di anak benua India-Muslim, Deccan telah kokoh, maka mereka mulai menyebarkan islam ke tempat lain, termasuk wilayah Nusantara dengan cara menjadi pedagang perantara yang menghubungkan wilayah Timur Tengah dengan wilayah Asia Tenggara sambil menjadi penyebar islam.
2.      Teori kedua, menyatakan bahwa islam datang dari Bengal sebagaimana diungkapkan oleh S.Q Fatimi. Dia beranggapan bahwa teori batu nisan di makam Malik Ash Sholeh sama sekali berbeda dengan batu nisan di Gujarat, akan tetapi batu nisan Fatimah binti Maimun di Leran Jawa Timur bertahun 475 H (1082 M), justru memiliki kesamaan dengan batu nisan di Bengal.
3.      Teori ketiga, menyatakan bahwa islam datang ke Indonesia melalui Coromedel dan Malabar. Sejarawan yang berpendapat semacam ini adalah Thomas W. Arnold, alasannya wilayah ini memiliki kesamaan madzab dengan wilayah Nusantara waktu itu. Teori ini juga didukung oleh Morrison, yang menurutnya islam tidak mungkin datang dari Gujarat, sebab secara politis Gujarat belum memungkinkan menjadi sumber penyebaran ketika itu dan belum menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan antara wilayah Nusantara dengan wilayah Timur Tengah.
4.      Teori keempat, menyatakan bahwa islam datang dari sumber aslinya yaitu Arab. Sejarawan yang mengemukakan pendapat ini adalah Naguib al-Attas. Teori ini beranggapan bahwa untuk melihat islam di Asia Tenggara itu datang dari mana, maka yang harus dipetimbangkan ialah kajian terhadap teks-teks  atau literatur Islam Melayu Indonesia dan sejarah pandangan Melayu terhadap berbagai istilah atau konsep suci yang digunakan oleh penulis Islam di Asia Tenggara pada abad X-XI H (XVI-XVII M).
                                                     
Beberapa Sumber sejarah mengenai masuknya islam ke Indonesia dapat digolongkan menjadi dua:
1.      Sumber Ekstern
a.       Berita Arab
Pada Abad VII M dimana kesultanan Sriwijaya sedang berkembang menuju ke kesultanan Maritim, telah banyak pedagang Arab yang mengadakan hubungan dengan masyarakat Zabag / Sriwijaya.
b.      Berita Eropa
Pada tahun 1292 M, Marcopolo, orang Eropa (Italia) pertama yang menginjakkan kakinya ke Indonesia kembali dari Cina ke Eropa melalui jalan laut. Ketika singgah di Perlak pemeluknya telah memeluk agama islam dan telah terdapat kesultanan yaitu Kesultanan Samudra Pasai.
c.       Berita India
Para pedagang Gujarat India, di samping berdagang juga menyebarkan agama islam di Pesisir pantai.
d.      Berita Cina
Dikatakan oleh Ma Huan (Sekretaris Laksamana Cheng Ho) bahwa pada tahun 1400 M. Telah ada perdagang-pedagang islam tinggal di Pantai utara Jawa.

2.      Sumber Intern
a.       Batu Nisan Fatimah binti Maimun (1082 M) yang bertuliskan Arab, di Leran Gresik.
b.      Makam Sultan Malik Ash Shaleh (1297 M) di Sumatera.
c.       Makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim (1419 M) di Gresik.
            Adapun proses Islamisasi di Indonesia dilakukan dengan berbagai bentuk, antara lain:
a.       Perdagangan
Para pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat memegang peranan penting, sebab di smping berdagang mereka juga menyebarkan Islam. Mereka mendirikan perkampungan sendiri (perkampungan pedagang muslim dari negeri asing) yang disebut Pekajon. Melalui perdagangan inilah islam berkembang pesat.
b.      Perkawinan
Perkawinan merupakan saluran Islamisasi yang paling mudah, sebab dari perkawinan itu akan terbentuk ikatan kekerabatan antara pihak keluarga laki-laki dan perempuan. Apalagi saluran perkawinan itu terjadi antara pedagang, ulama ataupun sultan, maka akan lebih menguntungkan dalam penyebaran islam.
c.       Politik
Penyebaran islam melalui saluran politik dilakukan oleh para penguasa, baik dalam lingkup besar maupun kecil. Para penguasa mempunyai pengaruh dan wibawa serta disegani sehingga mereka menjadi panutan rakyat. Itulah sebabnya, tindakan penguasa islam segera diikuti oleh rakyat.
d.      Pendidikan
Setelah perkampungan islam terbentuk, mereka mulai mendirikan fasilitas pendidikan berupa pondok pesantren yang dipimpin langsung oleh guru agama dan para ulama. Para lulusan pesantren akan pulang ke kampung halaman dan menyebarkan ajaran islam di daerahnya masing-masing.
e.       Seni budaya
 Proses Islamisasi melalui seni budaya seperti seni bangunan, seni pahat, seni ukir, seni tari, musik, dan sastra. Dalam proses Islamisasi di Jawa dilakukan oleh para wali yang lebih di kenal Wali Songo. Contohnya sunan kalijaga yang merupakan salah satu tokoh islam menggunakan pementasan wayang untuk berdakwah.
f.       Melalui Tasawuf
Ajaran Tasawuf masuk di Indonesia pada abad XII M. Misalnya di Aceh seperti Hamzah Fansuri, Syamsudin as-Samatrani dan Nuruddin al-Raniri. Sedangkan di Jawa, sebagian Wali Songo juga ada yang mengajarkan tasawuf seperti, Sunan Bonang dan Sunan Kudus.


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar